Siapa Pembunuh Sebenarnya? Cuma Orang Jenius yang Bisa Nebak Ending HARUSKAH POLI GAMI DI ATAS JA NIN YANG MA TI!
"Jadi, mulai besok Dewi pindah ke r u m a h ini. Anggap saja ini ujian kesabaran kamu."
"Ujian kesabaran, Mas?"
***
Suara Raya pe cah. Bersim puh di lantai dingin, pi pi kirinya masih berde nyut nye ri bekas tam paran Arga.
"Ketaatan macam apa lagi yang kamu ta gih? Kamu baru saja pulang dari ho tel, habis t i d u r sama sahabatku sendiri! Sekarang kamu nyuruh aku patuh? Kamu sehat, Mas?!"
Arga melo rot duduk di lantai. Pung gungnya bersandar di sofa cokelat tempat mereka biasa menonton film. Na pasnya mem bu ru ka sar. Sorot matanya tetap ke ras, memancarkan ego yang tak tersen tuh.
"Ray, aku tahu ini kacau. Tapi t o l o n g, pahami posisi aku."
"Paham posisi?!" Raya mende lik ta jam. Tawanya mengudara, ge tir dan sarat lu ka.
"Aku s a y a n g kamu, Ray. Tapi aku nggak bisa putusin Dewi gitu aja." Suara Arga terdengar sangat egois.
"Kamu bilang s a y a n g padaku? S a y a n g itu d a s a r n y a jujur, Mas! Bukan kebo hongan yang kamu pupuk berbulan-bulan!"
Arga menegakkan duduknya. Suaranya naik satu oktaf, kembali ke mode menceramahi dengan nada sok suci. "Dalam agama, laki-laki punya hak mutlak berpoli gami, Ray! Ini hak aku sebagai imam. Aku cuma minta kamu buka hati. Dewi itu lem but. Dia mau mengalah jadi madu kamu. Kurang mulia apa dia?"
Raya menatap suaminya dengan kila tan ji jik. Da da Raya terasa se sak, seolah oksigen di ru angan itu habis terse dot keegoisan Arga.
"Menerima Dewi?" de sis Raya, suaranya bergetar menahan ama rah. "Dia sahabatku, Mas! Bahkan dia sudah seperti saudaraku sendiri. Orang tuaku yang membia yai hidupnya, Mas!"
Arga bergeser maju, mencoba meraih lengan Raya. "Justru karena dia sahabat kamu, dia paham sifat kita."
"Jangan sen tuh aku!" Raya mene pis tangan itu ka sar.
"Lagi pula," lanjut Arga dengan nada menggurui, "Siti Aisyah saja ikhlas dimadu. Masa kamu yang cuma manusia biasa nggak bisa? Jangan egois, Ray. Pikirkan pahalanya. Ini ladang surga buat kamu."
Raya tertegun, lalu menatap Arga dari ujung kaki hingga kepala.
"Kamu lihat cermin, Mas!" ben tak Raya, suaranya menggelegar memenuhi ru ang tamu. "Kamu bukan Rasulullah yang adilnya mutlak! Kamu cuma laki-laki biasa yang sedang menuruti syah wat, lalu sibuk mencari dalil untuk membungkus naf su be jatmu!"
"Ray..."
"Jangan bawa-bawa nama Nabi dan jualan surga hanya untuk menutupi bau bu suk kelakuanmu!"
Arga melongo. Li dahnya ke lu. Kata-katanya tertahan di tenggo rokan, telak dihan tam ucapan Raya.
Raya bang kit dengan kaki gemetar. Ia berjalan tertatih menuju ka mar utama. Suara klik dari kunci pintu menjadi batas tegas: Raya dengan kehan curannya, dan Arga dengan kebenaran yang dipak sakannya sendiri.
Malam semakin larut. Mata Raya enggan terpejam. Dari balik pintu ka mar, sayup-sayup ia mendengar suara Arga sedang menelepon di ru ang tamu. Suaranya begitu lem but, jenis nada yang dulu selalu menjadi penawar lelah bagi Raya.
"Iya, Wi... tenang ya," ucap Arga di seberang telepon dengan nada meman jakan. "R u m a h masih agak panas kondisinya. Tapi jangan khawatir, aku bakal beresin urusan sama Raya secepatnya."
Raya mere mas se prai.
"Besok pagi aku jemput jam delapan ya," lanjut Arga berbi sik me sra. "Jangan telat kelas zumbanya. Biar kamu segar lagi, S a y a n g."
Da da Raya bagai disiram cuka di atas lu ka yang menganga. Arga bisa selembut itu pada wanita yang baru saja mero bek r u m a h tangga mereka. Sementara istri sahnya dibiarkan meringkuk han cur sendirian.
“Bagaimana kamu akan membereskan aku, Mas?” bi sik Raya pada kegelapan k a m a r n y a.
"Kalian yang memulai, tapi aku yang akan mengakhiri!"
Bersambung…

No comments:
Post a Comment