Aku terpaksa menikahi lelaki lumpuh kaya raya. Atas dasar balas budi. Namun, siapa sangka, suami Lumpuhku itu ternyata ....
“Keluar!”
Laras yang baru saja mendorong pintu kamar, seketika terhenti di ambang pintu. Napasnya tercekat. Tu buhnya membeku, tak percaya pada kalimat pertama yang ia dengar dari mulut lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
Damar. Lelaki berkursi roda yang satu jam lalu menikahinya. Kini mengusirnya. Dingin, tanpa ragu, seperti membuang barang yang tak diinginkan sejak awal.
Laras menunduk. Jemarinya mencengke ram gaun pengantin yang masih membungkus tubuh rampingnya. Gaun itu terasa berat, seolah menjerat lehernya perlahan.
“Saya cuma mau ambil baju ganti,” ucap Laras lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering. Satu-satunya kekuatan yang masih ia punya hanyalah keberanian untuk tidak menangis di hadapan lelaki itu.
Suara lelaki itu, bagaikan serpihan kaca yang dilempar ke lantai. Pelan, tetapi ta jam. Menyisakan luka yang tak terlihat. Namun, terasa begitu menyakitkan.
Laras melangkah ragu menuju lemari, lalu mengambil tas berisi pakaiannya. Tangan wanita itu bergetar saat meraih pegangan tas.
Laras terdiam sesaat. Lalu mempererat pegangan pada tali tas di tangannya. Kemudian kembali melangkah dengan begitu pelan menuju pintu kamar, seolah setiap langkahnya adalah bagian dari keputusasaan dalam dirinya.
Damar mendengus pelan dari kursi rodanya. Lelaki itu tak berbalik, tetap menghadap jendela. Pandangannya kosong menatap hujan yang mulai mengguyur, seakan menyelami luka yang tak bisa dijelaskan.
“Tetaplah di sini. Aku tidak ingin ayahku berpikiran yang tidak-tidak. Tidurlah di sofa. Aku tidak ingin berbagi ran jang denganmu.”
Laras hanya diam. Tu buhnya mematung. Langkahnya menggantung di udara. Kalimat itu membingungkan. Tadi ia diusir, kini diminta untuk tinggal.
Laras merasa dipermainkan. Ia marah dan kecewa, namun tak berani untuk mengungkapkannya.
Hujan di luar menggurat kaca jendela seperti tangan-tangan kecil yang mengetuk, memohon agar malam itu tidak terlalu ke jam. Tetapi Damar tetap bergeming. Ucapannya dingin dan begitu ta jam.
Sesaat kemudian roda kecil itu berdecit pelan di atas lantai marmer yang dingin. Damar menghilang di sebalik pintu.
Laras menunduk lebih dalam. Kakinya terasa seperti tenggelam dalam lantai marmer itu. Seakan tak berpijak.
Ia berjalan menuju sudut ruangan, meletakkan tasnya dengan hati-hati. Lalu perlahan duduk di sofa panjang berlapis kain beludru mahal. Sofa itu nyaman secara fisik, tetapi justru menyakitkan secara batin.
Laras duduk sembari memeluk lutut. Matanya kosong, tetapi tangisnya mulai terdengar perlahan. Ia tak berusaha menyeka air matanya yang jatuh. Biarlah, setidaknya air mata itu jadi satu-satunya saksi bahwa ia masih punya rasa.
Langit-langit kamar mewah itu terlihat begitu tinggi dan angkuh. Laras menatapnya, seolah mencari tempat untuk menggantung harapannya yang telah patah.
Sunyi. Tak ada suara selain deru hujan dan isak tangisnya yang tertahan. Bahkan detik jam pun seperti enggan berdetak. Seolah waktu ikut berbelas kasihan padanya.
Kini, ia telah resmi menikah dengan lelaki asing. Lelaki yang tak menginginkannya. Tak mengucapkan selamat malam, tak menatap wajahnya, bahkan tak mengakui keberadaannya.
Kenapa aku di sini? batinnya meratap. seperti seorang anak kecil yang kehilangan arah.
Tiga hari yang lalu, hidup Laras masih sederhana. Dapur kecil, kampus, buku, serta senyum kecil saat menunggu warung milik bibinya. Semua itu sederhana, namun terasa hangat.
Kini semua itu hanya tinggal kenangan.
Laras adalah gadis malang yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Saat ia baru berusia sepuluh tahun. Dunia mencabut kasih sayang dari akar terdalamnya. Lalu, ia diasuh oleh Paman dan Bibinya.
Laras memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Memiliki klinik pengobatan gratis. Agar setiap orang miskin yang sskit bisa tertolong. Ia tidak ingin apa yang menimpa kedua orang tuanya terjadi terhadap orang lain. Benar-benar sebuah cita-cita yang sangat mulia.
Namun, malam itu …
Sebuah kalimat dari mulut pamannya menghantamnya seperti palu godam.
“Jika kau ingin membalas budi, maka menikahlah dengan Tuan Damar.”
Suara itu keluar dari bibir lelaki pemabuk yang matanya merah dan napasnya berbau alkohol.
Ucapan itu bagaikan petir yang menggelar, membelah langit malam dan menghantam bumi kecil bernama Laras.
“Laras masih kuliah! Aku yakin dia akan jadi orang sukses!” seru sang bibi mencoba menyela. Suara wanita paruh baya itu bergetar. Matanya menyiratkan sebuah permohonan.
“Diam! Aku tidak sedang berbicara denganmu!” Tangan itu terangkat. Menggenggam gelas bir yang pecah di atas meja. Lalu mengarahkannya pada kepala sang istri. Namun, sebelum botol itu sempat mendarat sempurna di kepala sang istri. Wanita paruh baya itu berhasil mundur sembari menjerit pelan.
Meja terguling, kursi melayang. Teriakan menggema di rumah kecil itu.
Laras terisak di ambang ruang tamu. Da danya sesak, pemandangan itu menghancurkan pertahanannya.
Ia tak tahu mana yang lebih menyakitkan. Suara a ma rah atau keputusan yang akan ia ambil?
“Paman … jangan sakiti Bibi. Aku bersedia menikah dengan Tuan Damar.”
Kalimat itu menggema dalam diam. Menghentikan badai seketika.
Sang bibi menggeleng, menahan tangis. Ia menatap Laras dengan mata yang penuh luka, seolah berkata, “Jangan lakukan ini, Nak. Jangan korbankan hidupmu karena keserakahan Pamanmu.”
Sebenarnya, sudah ribuan kali sang paman mengutarakan hal itu. Namun, Laras selalu diam. Tetapi, malam itu ia telah pasrah. Ia tidak sanggup lagi melihat Paman dan Bibinya terus bertengkar karena masalah yang sama.
Setelah mengatakan kalimat penerimaan itu, Laras masuk ke kamar. Memeluk lutut sembari menangis tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir diam-diam, tanpa tahu kapan akan berhenti?
Laras merasa dijual. Namun, ia tak punya pilihan atas dasar kata "Balas budi."
Kini, ia berada di rumah mewah keluarga Bramantyo. Di kamar pengantin yang indah, tetapi dingin.
Tak ada bunga, tak ada pelu-kan, tak ada senyum serta tak ada ucapan selamat malam.
Laras berdiri perlahan, mengganti baju pengantinnya dengan sebuah piyama bermotif bunga-bunga. Kemudian merebahkan diri di sofa.
Tak lama kemudian, Damar masuk ke kamar. Mendorong kursi rodanya perlahan. Diam, sunyi, tanpa kata.
Lelaki itu nampak berpindah dari kursi rodanya ke atas ran jang, lalu berbaring.
Matanya yang ta jam memandang langit-langit. Kosong, seolah menatap langit malam tanpa bintang. Ia tidak menatap Laras sama sekali. Baginya, wanita itu tak pernah ada.
Luka di hatinya terlalu dalam. Luka yang tak akan mampu untuk disembuhkan hanya dengan waktu.
"Mana ada perempuan yang mau dengan lelaki lumpuh sepertiku ... kalau bukan hanya karena u ang."
Judul: Rahasia Suami Lumpuhku

No comments:
Post a Comment