Ku pikir setelah menjadi janda hidupku akan tenang, ternyata mantan ayah mertuaku lebih membuatku tidak bisa tenang, apalagi ketika di r a nj ang....
Telepon meja Nayara berdering, memecah kesunyian ruang kerjanya. Dengan sedikit enggan, dia mengangkatnya.
"Halo, Nay. Kamu ada waktu?"
Suara itu. Sebuah suara yang sangat dia kenal terdengar. Adrian.
"Ada apa? Kenapa tidak telepon ke ponselku?" tanya Nayara, mencoba menyamarkan kegelisahannya.
"Kamu memblokir nomor WA-ku, bagaimana aku bisa meneleponmu?" jawab Adrian, nada suaranya datar namun terdapat sedikit l u ka.
Nayara diam sejenak. Dia memang lupa kalau telah memblokir nomor mantan suaminya itu.
"Ada apa?" kembali Nayara mengulang pertanyaannya, berusaha singkat.
"Aku butuh setelan jas untuk acara ulang tahun perusahaan ayah Davin," jawab Adrian.
"Kenapa kamu tidak minta bantuan Serena saja? Selera fashion dia bagus, kan?" tanya Nayara, mencoba mengalihkan.
"Enggak sebagus kamu," jawab Adrian dengan cepat.
"Kamu hubungi Yeyen saja. Dia pasti bisa bantu kamu. Maaf, aku sendiri juga sibuk menyiapkan setelan jas khusus untuk acara ulang tahun perusahaan itu," jawab Nayara, berharap ini akan mengakhiri percakapan.
Diam sejenak di seberang garis. Lalu, Adrian terdengar terkejut.
"Si-siapa? Siapa yang pesan jas ke kamu?" tanyanya, nadanya tiba-tiba berubah.
Nayara menarik napas dalam.
"Om Davin."
Nayara lalu menutup sambungan telepon dengan sedikit gemetar. Ujung jarinya terasa dingin saat meletakkan gagang telepon perlahan, seolah alat itu bisa meledak kapan saja. Percakapan singkat itu meninggalkan rasa tidak enak di ulu h at inya. Mengapa Adrian tiba-tiba membutuhkan jas? Dan mengapa harus darinya?
Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan melihat setelan jas Davin yang masih tergantung anggun di depan meja kerjanya. Kain putih tulang itu tiba-tiba terasa seperti sebuah pertanda—elegan di luar, namun menyimpan ketegangan yang tak terlihat.
Sementara itu di apartemen Serena, Adrian masih terduduk kaku, telepon m a ti di tangannya. Wajahnya pucat, tatapannya kosong menatap dinding mewah berlapis marmer.
“Ada apa, sayang?” tanya Serena yang baru saja keluar dari k a m ar mandi, handuk mewah terikat longgar di tubuhnya. Dia mendekat, lengannya yang mulus melingkari bahu Adrian.
“Ayah Davin pesan jas ... pada Nayara,” gumam Adrian, suaranya parau, hampir tak terdengar.
Serena langsung melepas pelukannya. M at a hijauanya menyipit, ta j am dan dingin. “Sudah aku bilang kan,” desisnya, setiap kata diucapkan dengan tekanan yang membuat udara sekitarnya seketika mengental, “Mereka ada hubungan khusus! Makanya kamu harus gerak cepat sebelum semua aset perusahaan jatuh ke tangan ayah tirimu itu! Lebih baik kamu sebagai a n ak segera meminta pembagian perusahaan!”
Adrian menggeleng, menjauhkan diri dari Serena. “Nggak semudah itu, Serena! Apalagi ayah Davin masih hidup, sehat dan bugar. Memimpin perusahaan sampai 20 tahun ke depan saja dia masih sanggup!” Suaranya meninggi, dipenuhi frustrasi.
Serena mendekat lagi, wajahnya hanya berjarak seinci dari Adrian. “Ingat, Adrian. Kita tidak bisa hidup dengan baik kalau kamu tidak mendapatkan itu semua,” bisiknya, namun nada itu seperti sirene peringatan.
“Kenapa yang ada dalam o t akmu hanya harta? Tidak cukupkah apa yang aku berikan selama ini?” tanya Adrian, suaranya lirih, penuh kelelahan.
“Tidak!” Serena membentak, m at anya menyala-nyala. “Aku tidak mau kalah dari Nayara!”
Adrian tertawa getir, tatapannya menyapu tubuh Serena dari ujung kepala sampai kaki. “Kamu? Mau bersaing dengan Nayara? Lihat dirimu! Hanya model yang sudah jarang laku, tak ada bisnis apapun. Sementara Nayara punya talenta bagus di dunia fashion, dia punya butik, bahkan punya nama besar di kalangan artis.”
Wajah Serena memerah. Luka harga diri yang tersentuh membuatnya kehilangan kendali. “Jangan bandingkan aku dengan mantan istrimu yang man d ul itu!” sergahnya, suara melengking. “Selama ini Nayara sama kamu nggak hamil-hamil kan!? Apa kalau nggak mandul!?”
Adrian diam seketika. Tubuhnya menegang. Setiap kata Serena seperti pisau yang mengoyak-oyak masa lalunya yang paling kelam. Dia melihat wajah cantik itu, tapi yang terlihat hanya kebencian dan ambisi yang tak terkendali. Berdebat dengan Serena memang selalu percuma. Dia membalikkan badan, mengambil kunci mobilnya di meja.
“Mau ke mana?” tanya Serena, nada masih tinggi.
Tanpa menjawab, Adrian membanting pintu apartemen hingga bergetar. Ia perlu udara. Ia perlu melupakan bahwa wanita yang ia tinggali sekarang mungkin adalah kesalahan terbesarnya.
Udara café yang sejuk dan aroma kopi sangrai tidak juga mampu mengusir kekusutan di wajah Adrian. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kulit, menatap hujan rintik-rintik yang mulai membasahi jalanan ibu kota. Kukuh, sahabat lamanya, sudah duduk di seberang, menyilangkan kaki dengan gaya santainya yang khas.
“Lagi-lagi Serena?” tanya Kukuh tanpa basa-basi, kedua alisnya naik penuh arti. “Wajahmu kayak baru digebukin preman.”
Adrian menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Dia nggak ada habisnya, Kuh. Selalu saja ada yang dipermasalahin.”
Kukuh terkekeh kecil, menggeser gelas kopinya. “Salah sendiri. Berlian dibuang, batu kali dicomot. Dulu Nayara sama kamu harmonis-harmonis aja. Serena? Dari luar aja udah keliatan rumit.”
Adrian menggeleng, m a tanya menerawang keluar jendela. “Dia nuduh Nayara mandul. Bilang, itu sebabnya kita nggak punya a n ak.”
Kukuh hampir tersedak kopinya. “Serius? Dasar Serena, nyerangnya makin rendah saja. Itu cuma tukang nutupin kekurangannya sendiri. Dari segi attitude, karir, sampai kelas—Nayara menang telak. Kamu aja yang b o doh malah ngelepas dia.” Kata-kata Kukuh tajam, tapi jujur. Seperti selalu.
Adrian meminum es kopinya dalam satu tegukan besar. Rasa pahitnya seakan mewakili hidupnya sekarang. “Aku tahu. Aku sadar, Kuh. Serena ... ternyata terlalu ambisius. Terlau haus harta dan pengakuan.”
“Nah, sekarang kamu baru ngeh,” Kukuh menyeringai. “Tapi nggak usah disesali lagi. Kamu sudah pilih Serena, lepas Nayara. Harus jalanin saja konsekuensinya.”
Tapi penyesalan itu seperti hujan di luar—merembes pelan, membasahi setiap sudut h a tinya. Adrian teringat senyum lembut Nayara, dukungannya tanpa syarat, dan cara dia selalu menerima segala kekurangannya. Kini, yang ada hanya Serena dengan tuntutan dan ambisinya yang tak pernah habis.
“Aku mungkin memang bo d oh, Kuh,” gumam Adrian lembut, m a ta tak berkedip memandangi tetesan hujan yang mulai deras.
Kukuh hanya menghela napas. “Cuma satu saran aku, Yan. Jangan biarkan Serena merusak segalanya—termasuk hubunganmu dengan Davin. Dia ayahmu juga, meski bukan darah.”
Tapi Adrian sudah tidak mendengar. Pikirannya melayang pada Nayara. Pada kata-kata Nayara yang bilang kalau Davin memesan setelan jas untuk acara ulang tahun perusahaan padanya. Pada kenyataan bahwa mungkin saja, kekosongan dalam hidupnya sekarang adalah akibat pilihannya sendiri yang keliru.
Matahari sore mulai merendah, menebar cahaya keemasan yang menyelinap lepas dari balik tirai kaca butik. Nayara masih asyik menyempurnakan detail bordir pada jas Davin, jemarinya lincah menari di atas kain mewah. Konsentrasinya pecah ketika bel pintu berdenting kasar, diikuti langkah mantap yang terlalu familiar.
Davin berdiri di ambang pintu, siluet tubuhnya yang tegap memenuhi bingkai pintu. Ma tanya, gelap dan ta ja m, langsung mengunci Nayara yang terkesiap di belakang meja kerja.
“Sudah jam enam sore,” suaranya rendah, beresonansi di ruang yang tiba-tiba terasa sempit. “Mau sampai jam berapa kamu di sini?”
Nayara menjatuhkan jarumnya. “Aku ... belum selesai.”
Davin melangkah mendekat, setiap langkahnya penuh tujuan. Dia mengabaikan tatapan penasaran Yeyen dan karyawan lain yang berpura-pura sibuk. “Aku bilang jam enam. Kamu pikir aku main-main?”
“Aku cuma butuh waktu sedikit lagi—”
“Tidak.” Davin sudah berada di hadapannya. Tangannya yang besar menutup permukaan meja, mengurung Nayara dalam posisi yang membuatnya sulit bergerak. “Kita punya janji. Dan kamu seharusnya sudah siap sejam yang lalu.”
Nafas Nayara tersendat. Aroma parfumnya—wangian kayu dan vanilla yang mahal—memenuhi paru-parunya, membawa pulang semua memori Bali yang berusaha dia pendam.
“Aku bukan karyawanmu, Om Davin. Kau tidak bisa mengatur jam kerjaku seperti itu.”
Davin membungkuk, mendekatkan wajahnya hanya beberapa inci dari Nayara. “Ini bukan tentang jam kerja,” bisiknya, hanya untuk didengarnya sendiri. “Ini tentang kamu yang berusaha menghindar. Dan aku tidak akan membiarkannya.”

No comments:
Post a Comment